Indramayu — Universitas Tangkas Jaya mencatat pencapaian signifikan dalam dunia penelitian akademik nasional. Tim peneliti lintas disiplin ilmu dari kampus yang berlokasi di Jalan Raya Cikedung, Indramayu, berhasil meraih pendanaan penelitian sebesar Rp 2,5 miliar dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk mengembangkan teknologi bioenergi terbarukan berbasis limbah pertanian lokal.
Penelitian yang dimulai sejak Januari 2025 ini merupakan inisiatif kolaboratif antara Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Sains Terapan Universitas Tangkas Jaya. Program riset berjudul “Optimalisasi Produksi Biogas dari Residu Padi dan Tebu dengan Teknologi Anaerobic Digestion Terdistribusi untuk Pemberdayaan Ekonomi Petani Lokal” menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam mengembangkan solusi berkelanjutan untuk tantangan energi dan pertanian di kawasan Indramayu.
Latar Belakang Penelitian Inovatif
Indramayu dikenal sebagai salah satu sentra pertanian terbesar di Provinsi Jawa Barat dengan produksi padi dan tebu yang melimpah setiap tahunnya. Namun, potensi limbah pertanian yang mencapai ratusan ribu ton per tahun belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini menjadi pemicu tim peneliti Tangkas Jaya untuk mengembangkan teknologi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambah bagi petani setempat.
Dr. Bambang Sutrisno, Dekan Fakultas Teknik Universitas Tangkas Jaya, menjelaskan bahwa ide penelitian ini berasal dari observasi mendalam terhadap permasalahan real yang dihadapi masyarakat pertanian lokal. “Kami melihat petani setiap tahun membakar limbah padi di lapangan, padahal limbah tersebut mengandung potensi energi yang sangat besar. Dari sinilah lahir ide untuk mengembangkan teknologi biogas yang dapat diakses petani skala kecil dan menengah,” ujar Dr. Bambang ketika diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (03/04/2026).
Menurut data yang dikumpulkan tim riset, setiap hektar lahan padi menghasilkan limbah sekitar 5-8 ton per tahun. Dengan luas tanam padi di Indramayu mencapai lebih dari 200.000 hektar, potensi limbah pertanian mencapai 1-1,6 juta ton per tahun. Limbah serupa juga dihasilkan dari industri pengolahan tebu yang tersebar di wilayah Indramayu.
Metodologi dan Tim Peneliti
Tim penelitian ini terdiri dari 23 peneliti, baik dosen maupun mahasiswa program pascasarjana dan sarjana. Koordinator penelitian, Dr. Ir. Siti Nurhaliza, M.Sc., dari Departemen Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Tangkas Jaya, mengatakan bahwa metodologi penelitian dirancang dengan pendekatan partisipatif melibatkan petani lokal.
“Kami tidak hanya melakukan penelitian di laboratorium, tetapi juga melakukan uji coba lapangan di 15 kelompok tani di tiga kecamatan di Indramayu, yaitu Kecamatan Cikedung, Kecamatan Indramayu, dan Kecamatan Losarang,” ungkap Dr. Siti dalam presentasi hasil riset sementara yang diselenggarakan di Auditorium Utama Tangkas Jaya, Rabu (04/03/2026).
Teknologi yang dikembangkan disebut “Anaerobic Digestion Terdistribusi” atau ADD, yang merupakan modifikasi dari teknologi biogas konvensional. Keunikan teknologi ini terletak pada skalabilitasnya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan petani individual atau kelompok tani, mulai dari kapasitas 10 meter kubik hingga 100 meter kubik.
Mahasiswa program studi Teknik Lingkungan semester enam, Muhammad Rafi Hardianto, yang terlibat dalam penelitian ini sebagai asisten peneliti, menceritakan pengalamannya melakukan riset lapangan. “Saya hampir setiap hari ke lapangan untuk memantau reaktor biogas yang telah kami instalasi di rumah petani. Awalnya ada keraguan dari petani, tetapi ketika mereka melihat hasil produksi biogas yang stabil dan dapat mengurangi pengeluaran untuk bahan bakar, antusiasme mereka meningkat drastis,” kata Rafi sambil menunjukkan dokumentasi foto instalasi reaktor di smartphone-nya.
Inovasi Teknologi dan Keunggulan Kompetitif
Spesifikasi teknis teknologi ADD yang dikembangkan Tangkas Jaya memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi biogas konvensional. Pertama, sistem ini dilengkapi dengan sensor IoT (Internet of Things) yang memungkinkan monitoring real-time dari smartphone. Petani dapat memantau suhu, pH, dan produksi biogas hanya melalui aplikasi mobile yang telah dikembangkan oleh tim dari Fakultas Sains Terapan.
Kedua, sistem ini menggunakan pre-treatment khusus pada limbah pertanian sehingga meningkatkan efisiensi konversi menjadi biogas hingga 35-40 persen, jauh lebih tinggi dibanding metode konvensional yang hanya mencapai 20-25 persen.
Ketiga, limbah dari proses anaerobic digestion dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi yang ramah lingkungan, sehingga petani memperoleh dua output berharga dari satu input limbah.
Dr. Ir. Agus Wijaya, M.T., dari Departemen Teknik Mesin yang bertanggung jawab dalam desain sistem, menerangkan bahwa investasi dalam mengembangkan teknologi ini tidak terlepas dari visi Tangkas Jaya untuk menjadi universitas yang relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal.
“Kami percaya bahwa universitas harus menjadi problem solver bagi masyarakat. Penelitian ini adalah manifestasi dari komitmen tersebut. Dengan teknologi ini, kami tidak hanya menciptakan energi terbarukan, tetapi juga memberdayakan ekonomi petani dan mengurangi emisi karbon dari pembakaran limbah pertanian,” jelas Dr. Agus dengan penuh keyakinan.
Hasil Awal dan Target Capaian
Berdasarkan hasil uji coba enam bulan pertama, teknologi ADD telah menunjukkan performa yang sangat memuaskan. Dari 15 unit reaktor yang diinstalasi, 14 unit berjalan dengan stabil dan menghasilkan biogas dengan konsistensi yang dapat diprediksi. Satu unit mengalami kendala teknis minor yang sudah diperbaiki.
Rata-rata, setiap unit reaktor dengan kapasitas 50 meter kubik mampu menghasilkan 8-12 meter kubik biogas per hari, setara dengan 4-6 kilowatt-hour energi listrik atau 3-4 kilogram liquefied petroleum gas (LPG) komersial. Artinya, biogas yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan memasak untuk keluarga petani dan masih ada surplus yang dapat dijual.
Target penelitian dalam dua tahun ke depan adalah menghasilkan minimal 50 unit ADD yang tersebar di berbagai lokasi di Indramayu, termasuk instalasi di sekolah-sekolah dan kantor pemerintah sebagai pilot project untuk edukasi dan demonstrasi teknologi.
“Kami juga merencanakan pelatihan untuk teknis dan petani sehingga mereka mampu melakukan maintenance dan operasional sendiri. Ini penting untuk sustainability jangka panjang dari teknologi ini,” tambah Dr. Siti.
Dukungan Akademik dan Institusional
Kesuksesan penelitian ini tidak terlepas dari dukungan penuh dari pimpinan universitas. Rektor Universitas Tangkas Jaya, Prof. Dr. H. Muhammad Ihsan, M.Si., menyatakan kebanggaannya terhadap pencapaian tim peneliti.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa Tangkas Jaya bukan hanya institusi pendidikan, tetapi juga pusat inovasi yang produktif. Kami telah mengalokasikan anggaran tambahan untuk mendukung riset-riset serupa yang berdampak langsung pada pembangunan daerah. Saya yakin, lima tahun ke depan, Indramayu akan menjadi percontohan pengembangan bioenergi di Indonesia,” ujar Prof. Ihsan dalam pidato pada acara Seminar Nasional Penelitian Berkelanjutan yang diselenggarakan di kampus pada 2 April 2026.
Untuk memastikan keberlanjutan penelitian, universitas juga telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu melalui Dinas Pertanian dan Energi Terbarukan telah menjanjikan dukungan dalam bentuk pengalihan lahan dan fasilitasi sosialisasi ke petani. Sementara itu, PT Pertamina dan beberapa perusahaan energi lokal menunjukkan minat untuk menjadi mitra komersial dalam pengembangan teknologi ini.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Dari perspektif ekonomi, teknologi ADD memiliki potensi dampak yang sangat signifikan. Studi kelayakan yang dilakukan tim riset menunjukkan bahwa investasi pembangunan satu unit reaktor biogas berkisar Rp 40-60 juta, dengan payback period (waktu kembali modal) sekitar 3-4 tahun. Setelah itu, keuntungan bersih dari penghematan LPG dan penjualan surplus biogas dapat mencapai Rp 8-10 juta per tahun per keluarga petani.
Jika teknologi ini dapat diadopsi oleh 1.000 petani di Indramayu, dampak ekonomi totalnya dapat mencapai Rp 8-10 miliar per tahun dengan penyerapan tenaga kerja lokal untuk instalasi, maintenance, dan operasional.
Dari aspek lingkungan, penelitian ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Dengan setiap unit reaktor mengurangi pembakaran limbah pertanian sebanyak 10-15 ton per tahun, adopsi teknologi ini di 1.000 keluarga petani dapat mengurangi emisi CO2 setara dengan 10.000-15.000 ton per tahun.
Aspek sosial juga menjadi perhatian penting. Teknologi ini memberdayakan petani, khususnya petani perempuan yang memiliki akses terbatas ke energi modern. Dengan biogas dari ADD, petani dapat mengurangi waktu pengumpulan kayu bakar dan meningkatkan kualitas udara di dalam rumah dengan mengurangi asap dari tungku tradisional.
Salah satu petani peserta uji coba, Ibu Siti Haryani (52 tahun) dari Desa Karangsari, Kecamatan Cikedung, berbagi pengalamannya dengan antusias. “Sejak punya reaktor biogas, hidup saya jauh lebih mudah. Saya tidak perlu lagi keliling mencari kayu bakar di pagi hari. Dapur saya juga jadi lebih bersih karena tidak ada lagi asap tebal. Plus, pupuk organik dari limbah biogas membuat tanaman padi saya lebih subur,” cerita Ibu Siti dengan senyuman yang tulus.
Peluang Publikasi dan Rekognisi Internasional
Tim penelitian Tangkas Jaya juga telah memulai proses diseminasi hasil riset melalui berbagai saluran publikasi ilmiah. Tiga makalah penelitian telah dikirimkan ke jurnal internasional bereputasi di bidang renewable energy dan sustainable agriculture. Selain itu, tim juga sedang menyiapkan paten untuk beberapa komponen inovatif dari teknologi ADD.
Dr. Siti mengatakan, “Kami ingin hasil penelitian ini tidak hanya bermanfaat untuk lokal, tetapi juga berkontribusi pada komunitas ilmiah global. Dengan publikasi internasional, kami harap teknologi ini dapat diadopsi di daerah-daerah lain dengan kondisi pertanian serupa, baik di Indonesia maupun di negara-negara berkembang lainnya.”
Tantangan dan Strategi Ke Depan
Meskipun penelitian telah mencapai hasil yang membanggakan, tim peneliti juga mengakui beberapa tantangan yang masih perlu diatasi. Tantangan utama adalah edukasi dan literasi teknologi di kalangan petani yang masih rendah, serta ketersediaan spare part dan layanan purna jual lokal.
Untuk mengatasi ini, universitas berencana mengembangkan program pelatihan intensif dan mendirikan pusat service teknologi ADD di beberapa lokasi strategis di Indramayu. Selain itu, universitas juga akan melibatkan industri lokal dalam perakitan komponen reaktor sehingga menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi biaya produksi.
Rektor Prof. Ihsan menekankan, “Kami tidak akan berhenti pada penelitian saja. Komitmen kami adalah memastikan teknologi ini benar-benar dapat diakses dan digunakan oleh masyarakat petani. Untuk itu, kami akan terus berinovasi dan beradaptasi dengan kebutuhan lapangan.”
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Pencapaian penelitian inovatif Universitas Tangkas Jaya dalam mengembangkan teknologi bioenergi terbarukan menunjukkan bahwa institusi pendidikan dapat memainkan peran krusial dalam menyelesaikan masalah sosial-ekonomi dan lingkungan. Riset yang melibatkan 23 peneliti dan didukung pendanaan Rp 2,5 miliar ini adalah wujud komitmen nyata Tangkas Jaya untuk memberdayakan masyarakat lokal melalui inovasi teknologi.
Dengan roadmap yang jelas untuk dua tahun ke depan, tidak mustahil bahwa Indramayu akan menjadi pusat pengembangan dan demonstrasi bioenergi terdistribusi di kawasan Asia Tenggara. Kesuksesan ini juga dapat menginspirasi universitas-universitas lain untuk mengembangkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan lokal mereka masing-masing.
Sebagai universitas yang berlokasi di jantung sentra pertanian Jawa Barat, Tangkas Jaya telah membuktikan bahwa dengan riset yang tepat, universitas dapat menjadi agen perubahan yang nyata dan terukur bagi kesejahteraan masyarakat.
—
Informasi Kontak: